Duta Masyarakat
Jumat, 12 Maret 2010 | 02:27:42 WIB

 INDEKS ARTIKEL 

TANGGAL: / /

 TOP 10 

  • Reaktor nuklir   (296)
    Reaktor nuklir
    Energi yang dihasilkan dalam reaksi fisi nuklir dapat dimanfaatkan untuk keperluan yang berguna. Untuk itu, reaksi fisi harus berlangsung secara terkendali di dalam sebuah reaktor nuklir. Sebuah ...

  • Posko Sehat dongkrak Tolak Angin   (294)
    Posko Sehat dongkrak Tolak Angin
    PROGRAM posko sehat yang digelar di beberapa kota di Jatim berdampak signifikan terhadap pasar Tolak Angin di Jatim. Dalam tiga bulan terakhir omzet Tolak Angin naik hingga 40% dibanding bulan-bulan ...

  • Kemelut Undar masih berlangsung   (294)
    Kemelut Undar masih berlangsung
    SETELAH sekitar sebulan lalu Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang dari kubu rektor KH Mujib Musta’in menggelar acara wisuda, di tempat yang sama, Minggu (20/12) kemarin, kubu H Lukman Hakim ...

  • Langkah nyata membumikan Pancasila sebagai jatidiri bangsa   (283)
    Langkah nyata membumikan Pancasila sebagai jatidiri bangsa
    Menjelang tutup tahun 2009, Dian Kemala, organisasi purnawirawan Polri, mengadakan Sarasehan Implementasi Pancasila dalam Pembentukan Karakter Bangsa. Kami telah diminta mengantar pembahasan ...

  • Mengikis kekerasan di lingkungan sekolah   (278)
    Mengikis kekerasan di lingkungan sekolah
    MASALAH kekerasan di sekolah sepertinya tak pernah lenyap dari dunia pendidikan kita. Kekerasan yang kerap terjadi itu semakin mengukuhkan pandangan bahwa ada yang tidak beres dalam sistem pendidikan ...

  • Ibadah sesuai tuntunan   (269)
    Ibadah sesuai tuntunan
    Beberapa waktu lalu muncul polemik mengenai salat dengan menggunakan bahasa Arab dan Bahasa Indonesia secara bersamaan. Patut kiranya dicermati persoalan yang oleh sebagian kalangan disebut sebagai ...

  • NU butuh manager, siapakah dia?   (269)
    NU butuh manager, siapakah dia?
    Setelah lama tak berkomentar soal figure-figur yang maju sebagai Ketua Umum PBNU, KH Hasyim Muzadi, Katua Umum PBNU saat ini akhirnya buka suara soal kreteria figur yang tepat untuk mengisi posisi ...

  • NU Perlu Perkuat Kaderisasi di Semua Tingkatan   (268)
    NU Perlu Perkuat Kaderisasi di Semua Tingkatan
    Di usianya yang telah menginjak 80 tahun lebih, NU menghadapi beberapa masalah. Persoalan paling utama yang dihadapi NU saat ini, adalah kaderisasi yang lemah. Itu salah satu masalah yang hingga kini ...

  • Perusahaan penyalur pembantu panen   (265)
    Perusahaan penyalur pembantu panen
    Memasuki masa libur Lebaran, biro jasa penyalur pembantu akan kebanjiran order permintaan pembantu rumah tangga. Kebutuhan pembatu ini meningkat karena banyak pembantu rumah tangga mudik pada ...

  • Demo 100 hari SBY dimulai   (265)
    Demo 100 hari SBY dimulai
    PULUHAN aktivis PC PMII Bojonegoro (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) menggelar aksi, Rabu (27/1) kemarin sebagai bentuk ketidakpuasan mereka terhadap pemerintahan SBY–Boediono dalam memimpin ...

  • Bagikan di Facebook
    ukuran teks: +besarkan -kecilkan
    Opini
    Sumpah, fitnah, dan ‘assassination’ sebagai instrumen politik

    Duta Masyarakat | 04 Februari 2010
     
     Baca Juga 
    Kaki tangan Dulmatin diobrak-abrik
    Kaki tangan Dulmatin diobrak-abrik
    MABES Polri membenarkan telah menangkap lagi kawanan teroris di Solo Jawa Tengah. Namun Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri belum bersedia menjelaskan soal penangkapan tersebut. Setelah ...

    Sidang Udju ungkap tiga nama baru
    Sidang Udju ungkap tiga nama baru
    TERDAKWA kasus dugaan suap kasus pemilihan Deputi Gubernur Senior BI tahun 2004, Udju Djuhaeri, menjalani persidangan perdana di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (11/3) kemarin. Dalam persidangan ...

    Fraksi PPP minta maaf ke SDA
    Fraksi PPP minta maaf ke SDA
    SETELAH mengambil pilihan sikap berbeda dengan kebijakan partainya, F-PPP DPR akhirnya meminta maaf kepada DPP PPP yang dipimpin Suryadharma Ali (SDA). Surat tersebut dilayangkan hanya sehari setelah ...

    DPR minta siswa puasa facebook
    DPR minta siswa puasa facebook
    Ujian Nasional (unas) untuk siswa SMA akan digelar pada 22 Maret mendatang. Untuk itu, agar sukses menempuh ujian, para pelajar diimbau puasa facebook.

    “Para pelajar agar puasa nonton ...

    Kasus Rieke Diah Pitaloka lemah
    Kasus Rieke Diah Pitaloka lemah
    TERTUDUH kasus pelecehan seksual, dr Rasyidin, angkat bicara. Sang dokter membantah tuduhan telah melakukan pelecehan seksual terhadap Rieke Diah Pitaloka. Menurut dr Rasyidin, dirinya tidak pernah ...

    Teroris ‘incar’ Obama
    Teroris ‘incar’ Obama
    TNI mengendus indikasi bahaya saat Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Hussein Obama berkunjung ke Indonesia 23 Maret mendatang. Namun potensi kerawanan tersebut terus diantisipasi aparat keamanan ...


    oleh: MOH SHOLEH BASYARI
    Direktur An-Nahdlah Institute, Surabaya; menyelesaikan Magister Politik Islam Klasik dari IAIN Sunan Ampel Surabaya.


    Belakangan ini, sumpah, fitnah dan character assassination marak meluncur deras dari pernyataan sejumlah pejabat. Mulai warning dari Presiden Sosilo Bambang Yudhayono (SBY), sumpah Komjen Susno Duadji (mantan Kabareskrim), hingga pernyataan serupa dari politisi dan pejabat yang tersangkut urusan hukum. Artikel berikut dimaksudkan sebagai upaya melacak arkeologi istilah dan konsep sumpah, fitnah, dan assassination sebagai instrumen politik.
    Sebagai instumen politik, sumpah sejatinya dibedakan atas dua hal: sumpah qasam dan sumpah baiat.

    Sumpah qasam adalah sumpah yang dilakukan seseorang untuk meyakinkan pihak lain bahwa ia melakukan atau tidak melakukan tindakan tertentu, yang memiliki efek yuridis bagi dirinya atau pihak lain.

    Sumpah semacam ini, secara praktis, diangggap sah manakala dilafalkan dengan rangkaian kalimat yang diawali dari huruf qasam. Huruf qasam itu hanya terdiri tiga huruf dalam abjad Arab: B (ba’), T (ta’) dan W (waw).

    Berikut contoh kalimat sumpah qasam: billahi saya bersumpah telah menerima suap sebesar Rp 10 miliar, atau tallahi saya bersumpah tidak pernah menerima uang Rp 10 miliar, dan wallahi saya bersumpah akan melaksanakan tugas sebagai pejabat negara dan memanggul amanat rakyat.

    Sumpah seperti yang dilakukan Komjen Susno Duadji di DPR, yang berbunyi “lillahi ta’ala saya tidak pernah menerima duit 10 miliar”, bukan termasuk sumpah dalam kategori instrumen politik. Meski awalnya dimaksudkan sebagai instrumen politik, sumpah itu batal karena tidak memenuhi salah satu unsur, yakni penyebutan yang tidak menggunakan huruf qasam (B, T dan W). “L” dalam kalimat Susno “lillahi ta’ala” bermakna keikhlasan dan bukan merupakan huruf qasam.

    Sedangkan sumpah baiat adalah kontrak atau perjanjian tak tertulis, berupa pengakuan atas atau sumpah setia kepada: seorang khalifah, penguasa, raja atau amir. Sumpah ini biasanya diberikan atas nama rakyat oleh tokoh suku, marga atau klan.

    Ketika wakil-wakil suku ini membuat perjanjian dengan penguasa, mereka melakukan hal itu dengan pengertian bahwa sepanjang penguasa bertanggung jawab atas rakyatnya, mereka setia kepadanya. Para wakil itu umumnya ulama, pemimpin politik, dan kadang-kadang tetua marga. Baiat juga berupa permohonan para wakil rakyat agar Allah melimpahkan berkah atau ridha-Nya kepada penguasa mereka.

    Frase Arab yang bermakna permohonan berkah atau ridha ini, yaitu Radhiya Allah ‘anhu (mudah-mudahan Allah ridha atasnya), berasal dari masa Nabi Muhammad dan sahabatnya. Frase ini digunakan juga pada masa para khalifah. Kata ridhwan artinya Tuhan berkenan terhadap penguasa yang dibaiat oleh rakyatnya dan ridha kepadanya. Penguasa itu pada hakikatnya menerima ridha Tuhan.

    Nabi Muhammad sendiri menerima janji setia dari pengikutnya secara perorangan pada 628 di Hudaibiyah, sebuah tempat antara Jeddah dan Makkah, ketika bersiap-siap hendak berhaji ke Makkah. Sumpah setia kepada Nabi itu dikenal dengan “baiat keridhaan” atau ba’iat al-ridhwan.

    Pada masa sekarang, baiat masih dipraktikkan di sejumlah negara, seperti Arab Saudi, khususnya saat penobatan raja. Baiat juga dilaksanakan oleh para pengikut tarekat kepada mursyidnya.


    Hasyasyin

    Dalam sejarah Barat, hasyasyin dilafalkaan dengan assassins diartikan sebagai kaum pembunuh. Dari pelafalan inilah pembunuhan karakter sebagai instrumen politik dikenal dengan character assassination. Padahal mulanya, hasyasyin adalah salah satu sekte Syiah Ismailiah, disebut juga Nizariah karena sekte ini mendukung Nizar al-Mustansir, putra sulung al-Mustansir (khalifah Fatimiah, 427-487 H/1036-1094 M).

    Kata hasyasyin berasal dari kata Arab hasysyasyiyyun atau hasysyasyiyyin yang artinya para pengguna hasyis (sejenis tumbuhan pembius dan pengantar mabuk). Pada masa Perang Salib, kelompok hasyasyin menduduki benteng-benteng wilayah perbukitan Suriah dan Iran barat laut. Dalam menghadapi musuh, mereka menggunakan kekerasan.
    Pendiri hasyasyin adalah Hasan bin Sabbah. Ia taat menunaikan semua aturan agama dan tidak membolehkan orang mabuk, menari atau bermain musik dalam lingkungan kekuasaannya. Pengikut hasyasyin dalam sejarah Islam kadang-kadang disebut kaum Ismailiah Timur atau Alamutiah atau Malahidah dari Kuhistan (“ateis” dari Kuhistan).

    Alamut terletak di puncak bukit yang amat sulit dicapai. Karena strategisnya, benteng itu disebut “Sarang Rajawali” (the Eagle’s Nest). Hasan bin Sabbah menguasai benteng Alamut selama 35 tahun. Dari tempat itu ia mengendalikan sistem teror ke seluruh Asia, Afrika, dan Eropa Timur, melawan pedang dengan belati, dan membalas penganiayaan dengan pembunuhan.

    Pada abad modern sisa-sisa pengikut Hasyasyin muncul kembali dengan cukup mengejutkan di bawah komando imam-imam mereka, Aga Khan Muhammad Syah al-Hali atau Aga Khan III (1877-1957) dan Aga Khan Abdul Karim (cucu Aga Khan III, sejak 1957). Kedua tokoh tersebut banyak berperan memperkenalkan kemajuan aktivitas Ismailiah Nizariah di dunia Islam dan dunia Ketiga pada umumnya. Karena itu, penerus Hasyasyin dikenal juga dengan nama Agakhanis.

    Jumlah mereka di seluruh dunia diperkirakan mendekati 20 juta, yang tersebar di berbagai negara di Asia (terutama di pantai barat India; mereka menamakan diri kaum “Khojah”), Timur Tengah, Barat, dan di Zanzibar. Mereka hidup membaur dengan sekte Syiah lainnya, bahkan dengan masyarakat Islam yang mayoritas Suni meskipun harus menyembunyikan identitas mereka.

    Pengikut Hasyasyin dapat dibedakan ke dalam beberapa tingkatan: al-fida’i (teman), ar-rafiq (sahabat), ad-da’i (pahlawan), ad-da’i al-kabir (pahlawan besar), dan da’i ad-du’ah (guru agung). Hasan bin Sabbah sendiri adalah Guru Agung Pertama (1090-1124).

    Para pemimpin Hasyasyin menuntut kesetiaan pengikutnya dengan membuat mereka mabuk kepayang dengan hasyis. Dengan cara ini mereka merasakan kenikmatan dan kegirangan dalam “surga”, sehingga seorang pengikut Hasyasyin bersedia mati untuk memperoleh kembali kenikmatan “surgawi” itu.


    Arti-arti berbeda

    Fitnah berasal dari bahasa Arab, berarti kekacauan, bencana, syirik, cobaan, ujian, dan siksaan. Dalam Al-Quran, kata fitnah disebutkan pada 34 tempat, dan digunakan untuk arti-arti yang berbeda. Fitnah dalam bahasa Indonesia dipahami sebagai berita bohong dan desas-desus tentang seseorang, karena ada maksud-maksud yang tidak baik dari pembuat fitnah terhadap sasaran fitnah.

    Perang saudara sesama umat Islam juga dikenal sebagai fitnah. Literatur sejarah mencatat bahwa peristiwa pembunuhan Usman RA, khalifah yang ketiga sepeninggal Nabi SAW, adalah peristiwa al-fitnah al-kubra (fitnah besar) yang pertama dan peperangan antara Mu’awiyah dan Ali RA sebagai al-fitnah al-kubra yang kedua. Inilah gambaran fitnah buta dan tuli, karena mereka sama-sama Islam tanpa melihat siapa sebenarnya yang benar.

    Al-Quran menggambarkan bahwa fitnah lebih kejam dan lebih besar daripada pembunuhan (QS 2:191, 217). Fitnah di sini digambarkan sebagai usaha menimbulkan kekacauan seperti mengusir sahabat dari kampung halamannya, merampas harta mereka, menyakiti atau mengganggu kebebasan mereka beragama. Fitnah bisa pula berarti siksaan, ujian atau cobaan seperti dijelaskan dalam surat al-Anfal ayat 25 dan 28.

    Secara etis, nilai-nilai Islam memerintahkan agar semua pihak menghindari fitnah (yang timbul karena pembicaraan yang salah) karena terpelesetnya lisan adalah ibarat terpelesetnya pedang. Fitnah jenis inilah yang belakangan marak terjadi dan disebut berulang-ulang oleh SBY dalam sejumlah kesempatan.

    Pengertian fitnah yang menonjol adalah perpecahan yang timbul akibat saling permusuhan, yang berakibat terjadinya saling membunuh dan akibat dari kebodohan serta kecongkakan. Menyikapi beragam fitnah, Nabi Saw memberi tips cukup dengan memohon perlindungan kepada Allah dari akibat buruk fitnah dengan doa “a’uzu bi Allahi min su’i al-fitani” aku berlindung kepada Allah dari buruknya fitnah. Wallahu a’lam.
    •