Duta Masyarakat
Jumat, 03 September 2010 | 18:56:36 WIB

 INDEKS ARTIKEL 

TANGGAL: / /

 TOP 10 

  • Hipmi dukung Sandiaga-Lutfi masuk kabinet   (300)
    Hipmi dukung Sandiaga-Lutfi masuk kabinet
    Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) mendukung anggotanya yang diminta membantu Presiden dalam lima tahun ke depan. Kader Hipmi yang mendapat dukungan luas adalah dua mantan Ketua Umum Hipmi ...

  • Galakkan pemeriksaan lewat papsmear   (299)
    Galakkan pemeriksaan lewat papsmear
    UNTUK menjaga kesehatan reproduksi wanita, sebanyak 100 anggota PC Fatayat Sidoarjo melakukan papsmear di RSI Siti Hajar, Sabtu (13/3). Selain itu, mereka diberi penerangan terkait bahaya penyakit ...

  • Saat mengoreksi diri   (298)
    Saat mengoreksi diri
    Setiap kita tentu pernah berbuat salah, melakukan dosa. Tapi, tak banyak di antara kita yang mau sibuk mengkalkulasi kesalahan-kesalahannya itu. Padahal, introspeksi diri, yakni mencoba menghitung ...

  • Berkendara tak konsentrasi didenda Rp 750 ribu   (292)
    Berkendara tak konsentrasi didenda Rp 750 ribu
    UNDANG-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu lintas dan Angkutan Jalan menjadi polemik di masyarakat. Kabarnya pengendara mobil yang menggunakan telepon sambil menyetir akan ditilang dan terancam ...

  • Usia internet sudah 40 tahun   (282)
    Usia internet sudah 40 tahun
    Kemarin 40 tahun lalu, dunia virtual menemukan arti baru, karena saat itulah internet hadir. Memang, tanggal pasti kelahiran internet tidak diketahui. Namun, pesan pertama yang dikirim dan diterima ...

  • Kenapa pemerintah mudah dikadali bank bermasalah?   (278)
    Kenapa pemerintah mudah dikadali bank bermasalah?
    Kasus BLBI Jilid I bertahun-tahun tidak jelas penyelesaiannya, bahkan terkesan dilupakan begitu saja. Begitu mudah pemerintah dikadalin bankir-bankir bermasalah. Begitu mudah mereka kabur ke luar ...

  • Dua santri juara II KEM tingkat nasional   (276)
    Dua santri juara II KEM tingkat nasional
    DUA siswa MTs Pamekasan berhasil menjadi juara II dalam Kompetisi dan Expo Madrasah (KEM) tingkat nasional 2009 di kota Malang baru-baru ini. Mereka adalah Rahmat Miskaya, siswa MTs Mambaul Ulum ...

  • Petani Mulai Gandrungi NPK   (275)
    Petani Mulai Gandrungi NPK
    SURABAYA – Problem pupuk segera terselesaikan. Ke depan petani sudah tidak lagi (harus) rebutan urea. Diversifikasi produk yang diluncurkan PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) — berupa NPK Pelangi — ...

  • Masyarakat bicara soal pengangkatan wakil   (269)
    Masyarakat bicara soal pengangkatan wakil
    Masyarakat bicara soal pengangkatan wakil menteri di beberapa departemen. Apa sesuai dengan kebutuhan atau untuk memenuhi keinginan parpol.

    +628563493xxx
    sungguh tragis nasib ...

  • Pengawas UN tegang   (269)
    Pengawas UN tegang



    Pengawas ujian nasional (UN) tampaknya harus bekerja ekstra keras dan tegang. Karena, jumlah peserta UN di Jatim sangat melimpah. Apalagi, mereka tersebar di seluruh wilayah ...

  • Bagikan di Facebook
    Perspektif
    Membedah kiprah entrepreneur organik
     Baca Juga 
    Mekkah pusat peradaban dunia
    Mekkah pusat peradaban dunia
    Prof. Hussain Kamel (1978) menemukan suatu fakta mengejutkan bahwa Mekkah adalah pusat bumi. Pada mulanya Kamel hanya meneliti suatu cara untuk menentukan arah kiblat di kota-kota besar di dunia. ...

    Dongeng Yogyakarta tempo dulu
    Dongeng Yogyakarta tempo dulu
    Yogyakarta. Apa yang terlintas di benak seseorang ketika mendengar kata Yogyakarta? Sebuah daerah yang telah berperadaban, masyarakatnya beretika, bermoral, sopan, halus dalam berbicara, budaya ...

    Membedah kiprah entrepreneur organik
    Membedah kiprah entrepreneur organik
    Pada Senin (25 Januari 2010) lalu saya mendapatkan sebuah pesona di kota Bandung, tepatnya di Kantor Redaksi Harian Pikiran-Rakyat. Tentu bukan pesona taman wisata atau sejuknya kota Bandung yang ...

    Sidogiri menguak sesat pikir Agus Mustofa
    Sidogiri menguak sesat pikir Agus Mustofa
    Dewasa ini, tafsir sains memang sedang menjadi tren di dunia penafsiran Al-Quran dan mendapat banyak perhatian dari para pakar di bidang ini. Fenomena ini tidak lepas dari kecenderungan masyarakat ...

    Desakralisasi teks Al-Quran
    Desakralisasi teks Al-Quran
    Sejak Edward Said melakukan serangan terhadap orientalisme, studi kritis tentang sejarah pembentukan Islam menjadi sebuah anatema (sesuatu yang kurang disukai). Sarjana Muslim yang hendak melakukan ...

    Desakralisasi teks Al-Quran
    Desakralisasi teks Al-Quran
    Sejak Edward Said melakukan serangan terhadap orientalisme, studi kritis tentang sejarah pembentukan Islam menjadi sebuah anatema (sesuatu yang kurang disukai). Sarjana Muslim yang hendak melakukan ...



    DUTA MASYARAKAT, 31 Januari 2010

    Pada Senin (25 Januari 2010) lalu saya mendapatkan sebuah pesona di kota Bandung, tepatnya di Kantor Redaksi Harian Pikiran-Rakyat. Tentu bukan pesona taman wisata atau sejuknya kota Bandung yang memang tidak seasri dulu. Acara seminar bedah buku Pesantren, Ekonomi-Agribisnis dan Entrepreneurship buat saya tergolong spesial. Hal ini karena sangat jarang sebuah pembicaraan menyangkut pesantren dan kewirausahaan terhubung dengan masalah pertanian.

    Mulanya direncanakan panitia pembicara dalam acara itu ialah KH Fuad Affandi (pengasuh pondok pesantren Al-Ittifaq Ciwidey Bandung), Dr Faisal Basri (pengamat Ekonomi) dan Faiz Manshur selaku penulis buku biografi KH Fuad Affandi. Sayangnya, KH Fuad berhalangan mendadak (menurut panitia) dan mewakilkan salahsatu santrinya (Ustad Ahmad Syahid) untuk berbicara.

    Para peserta terasa agak kecewa karena Pak Kiai nyentrik itu tidak hadir. Namun ketidakhadiran beliau bukan berarti mengecewakan sepenuhnya sebab dua hal lain, yaitu buku dan narasumber Bung Faisal Basri menjadi obat yang cocok untuk menggantinya.

    Buku Entrepreneur Organik dengan subjudul “Rahasia Sukses K.H Fuad Affandi Bersama Pesantren dan Tarekat Sayuriah-nya” menurut saya memang unik. Isinya mengisahkan perjuangan KH Fuad Affandi, seorang Ulama Nahdliyin dari Bandung dalam memperjuangkan kehidupan santri dan nasib kaum tani.

    Keunikannya terletak pada dua hal, yaitu pada sosok tangguh Kiai Fuad dan juga gaya penulisannya yang khas dengan tutur cerita. Kalau biasanya membaca biografi orang yang tidak pernah dikenal sebelumnya terasa kurang intim bahkan males, membaca buku Entrepreneur Organik akan lain rasanya. Letak kelebihannya pada cara bertutur dengan reportase dan data yang kuat.

    Dengan data yang kuat itu kita menjadi merasakan mendapatkan pengalaman faktual yang melimpah. Sedangkan dari sisi bahasa, penuturannya sangat baik, kaya akan istilah serta penjelasan detail sehingga kita mendapatkan kenikmatan tersendiri saat menyusuri sepak terjang sang tokoh. Seperti cerita silat, kita akan dibuat terus untuk mengikuti jalannya cerita dari awal hingga akhir.

    Pada akhirnya dari buku itu kita bisa disadarkan secara mendadak bahwa ternyata kehidupan kaum tani yang selama ini dekat dengan kita memang butuh perhatian khusus.
    Faisal Basri sebagai pembicara saya anggap di luar dugaan saat mengapresiasi buku itu. Sebab, biasanya narasumber terkadang kurang serius menguasai buku setebal 392 halaman itu ternyata Faisal begitu jeli melihat sisi-sisi terdalam dari buku.

    “Buku ini sangat bagus. Ditulis dengan alur cerita yang baik sehingga kita mengenal sisi mendalam. Fakta-fakta ditulis sehingga kita mendapatkan masukan berharga. Foto-foto yang disertakan juga membuat kita mengetahui potret kehidupan yang diuraikan. Saya merasa akhir-akhir ini mendapat anugrah dari Tuhan karena bisa silaturahmi dengan orang-orang hebat. Sekalipun Pak Kiai Fuad tidak jadi hadir tetapi saya merasa terhormat dengan kesempatan ini. Buku seperti ini sangat penting disebar luaskan agar kita mendapatkan pelajaran berharga dari Pak Kiai Fuad,” kata Faisal serius.

    Faisal Basri bahkan menyarankan agar Faiz Manshur yang dianggap mahir dan cepat menulis itu berkenan menuliskan sosok-sosok lain dari daerah yang kontribusinya luar biasa bagi bangsa. “Sebenarnya di Indonesia ini banyak orang hebat yang kontribusinya luar biasa tetapi terabaikan. Dengan publikasi seperti ini masyarakat menjadi tahu dan harapan kita ialah mampu mengambil ruh atau substansi dari pergerakan yang dilakukan orang hebat itu,” ujarnya.

    Sebelumnya, Faiz Manshur sebagai penulis buku itu menyatakan bahwa tujuan penulisan buku itu murni sebagai apresiasi terhadap apa yang telah dilakukan Kiai Fuad untuk membangun masyarakat di sekitar pesantren Al-Ittifaq. Kelebihan Kiai Fuad salahsatunya ialah mampu berjuang dalam dua sisi, yakni sebagai tokoh kultural dalam bidang agama sekaligus sebagai pejuang kaum tani.

    “Entrepreneur Organik yang saya istilahkan begitu bukan merujuk pada wirausahawan dalam pertanian organik, apalagi pupuk organik, melainkan wirausahawan organik yang dibedakan dengan wirausahawan murni dan wirausahawan sosial. Saya membuat istilah sendiri yang kami turunkan dari pengertian intelektual-organik dari Antonio Gramscy,” ujarnya.

    Menurutnya, entrepreneur-organik ini berbeda dengan social-entrepreneur karena seseorang yang masuk kategori ini berjuang bersama masyarakat sejak awal.
    Sedangkan entrepreneur-sosial biasanya lebih bersifat karikatif, atau sukses dulu baru berkontribusi bagi masyarakat.

    Sementara Ahmad Syahid yang berbicara atas nama Kiai Fuad menjelaskan beberapa hal tentang proses perjuangan dan prinsip-prinsip hidup gurunya. Salah satu hal yang menarik ialah bahwa Kiai Fuad sejak awal memimpikan para santri yang tinggal di asrama pondok tidak perlu mengandalkan biaya orangtua, alias mandiri.

    Maka untuk menjadi mandiri itulah Kiai Fuad mendidik santrinya bertani dan mengaji sebagai dua kegiatan bersama. Keinginan itu sekarang terwujud. Bahkan bukan hanya terwujud pada ratusan santri melainkan juga bagi ratusan bahkan ribuan kaum tani di sekitar pesantren yang menginduk kepada koperasi pondok pesantren Al-Ittifaq.
    Syahid juga menyampaikan pesan, bagi peserta yang merasa kurang puas atas penjelasan perwakilannya ini bisa silaturahhmi langsung ke Al-Ittifaq menemui Kiai Fuad.
    “Beliau selalu terbuka kepada tamu, tak akan ditanya agamanya apa, golongannya apa. Bahkan peserta pelatihan pertanian pun sering beragama non muslim,” pesannya.
    Sebagian peserta mengapresiasi buku itu memang memiliki nilai lebih dan banyak yang menyarankan agar buku itu beredar luas, di baca pejabat publik, kaum tani dan masyarakat pesantren. Salahsatu ide yang sedang digagas muncul dari Bapak Oman Abdulrahman dari Balai Besar Pertanian Lembang Bandung. “Kami sedang mencanangkan gerakan entrepreneurship bagi pesantren. Ide kami adalah mencetak 1.000 Kiai Fuad di seribu pesantren. Saya kira buku ini bisa menjadi bagian penting untuk menuju ke arah sana,” ujarnya. n

    Penulis, Alumni Pertanian Unpad Bandung.
    •