Duta Masyarakat
Rabu, 08 September 2010 | 17:43:55 WIB

 INDEKS ARTIKEL 

TANGGAL: / /

 TOP 10 

  • Kenapa pemerintah mudah dikadali bank bermasalah?   (297)
    Kenapa pemerintah mudah dikadali bank bermasalah?
    Kasus BLBI Jilid I bertahun-tahun tidak jelas penyelesaiannya, bahkan terkesan dilupakan begitu saja. Begitu mudah pemerintah dikadalin bankir-bankir bermasalah. Begitu mudah mereka kabur ke luar ...

  • Dua santri juara II KEM tingkat nasional   (296)
    Dua santri juara II KEM tingkat nasional
    DUA siswa MTs Pamekasan berhasil menjadi juara II dalam Kompetisi dan Expo Madrasah (KEM) tingkat nasional 2009 di kota Malang baru-baru ini. Mereka adalah Rahmat Miskaya, siswa MTs Mambaul Ulum ...

  • Petani Mulai Gandrungi NPK   (291)
    Petani Mulai Gandrungi NPK
    SURABAYA – Problem pupuk segera terselesaikan. Ke depan petani sudah tidak lagi (harus) rebutan urea. Diversifikasi produk yang diluncurkan PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) — berupa NPK Pelangi — ...

  • Masyarakat bicara soal pengangkatan wakil   (286)
    Masyarakat bicara soal pengangkatan wakil
    Masyarakat bicara soal pengangkatan wakil menteri di beberapa departemen. Apa sesuai dengan kebutuhan atau untuk memenuhi keinginan parpol.

    +628563493xxx
    sungguh tragis nasib ...

  • Haji dalam keadaan iddah   (286)
    Haji dalam keadaan iddah
    Pertanyaan:

    Ustadz, pada tahun ini insya Allah saya mau berangkat haji yang pertama (haji wajib) karena sudah membayar lunas dan sudah dapat ketentuan berangkat kloter 10 Surabaya. ...

  • Pengawas UN tegang   (283)
    Pengawas UN tegang



    Pengawas ujian nasional (UN) tampaknya harus bekerja ekstra keras dan tegang. Karena, jumlah peserta UN di Jatim sangat melimpah. Apalagi, mereka tersebar di seluruh wilayah ...

  • Cucu bos Astra tak ditahan   (282)
    Cucu bos Astra tak ditahan
    Terdakwa kasus korupsi pengelolaan ladang minyak Blok Ramba, Sumsel, Aditya Wisnuwardhana, dituntut dengan hukuman 11 tahun penjara. Tapi uniknya dia tidak ditahan. Salah satu cucu pendiri PT Astra ...

  • Selalu perbaharui STOK FILM   (281)
    Selalu perbaharui STOK FILM
    MEMANG tidak mudah menyajikan proses pembelajaran tetap menarik. Apalagi yang menjadi yang menjadi peserta didiknya adalah anak-anak yang masih berusia dini. Meskipun sudah menggunakan media film ...

  •   (280)

    NU tak maksimal cegah terorisme

    Perlu bentuk ‘Densus-99’?!

    Napi teroris dapat potongan hukuman

    Jelang Lebaran….. musim diskon.

    Soetrisno ...

  • Sulitya Bersikap Adil   (276)
    Sulitya Bersikap Adil
    Pemerintah berseteru dengan rakyat merupakan sesuatu yang luar biasa. Karena sudah sepatutnya pemerintah harus memiliki sifat damai dengan rakyat. Namun jikalau di dalam kalangan elit pemerintahan ...

  • Bagikan di Facebook
    Perspektif
    Desakralisasi teks Al-Quran
     Baca Juga 
    Mekkah pusat peradaban dunia
    Mekkah pusat peradaban dunia
    Prof. Hussain Kamel (1978) menemukan suatu fakta mengejutkan bahwa Mekkah adalah pusat bumi. Pada mulanya Kamel hanya meneliti suatu cara untuk menentukan arah kiblat di kota-kota besar di dunia. ...

    Dongeng Yogyakarta tempo dulu
    Dongeng Yogyakarta tempo dulu
    Yogyakarta. Apa yang terlintas di benak seseorang ketika mendengar kata Yogyakarta? Sebuah daerah yang telah berperadaban, masyarakatnya beretika, bermoral, sopan, halus dalam berbicara, budaya ...

    Membedah kiprah entrepreneur organik
    Membedah kiprah entrepreneur organik
    Pada Senin (25 Januari 2010) lalu saya mendapatkan sebuah pesona di kota Bandung, tepatnya di Kantor Redaksi Harian Pikiran-Rakyat. Tentu bukan pesona taman wisata atau sejuknya kota Bandung yang ...

    Jatim pertahankan sistem pengajaran pesantren
    Jatim pertahankan sistem pengajaran pesantren
    Jatim bertekad mempertahankan sistem pengajaran di pondok pesantren. Ini karena, ponpes dinilai memiliki kelebihan, yakni mampu menciptakan akhlak siswa yang baik. Wakil Gubernur Jatim, Drs H ...

    Sidogiri menguak sesat pikir Agus Mustofa
    Sidogiri menguak sesat pikir Agus Mustofa
    Dewasa ini, tafsir sains memang sedang menjadi tren di dunia penafsiran Al-Quran dan mendapat banyak perhatian dari para pakar di bidang ini. Fenomena ini tidak lepas dari kecenderungan masyarakat ...

    Desakralisasi teks Al-Quran
    Desakralisasi teks Al-Quran
    Sejak Edward Said melakukan serangan terhadap orientalisme, studi kritis tentang sejarah pembentukan Islam menjadi sebuah anatema (sesuatu yang kurang disukai). Sarjana Muslim yang hendak melakukan ...



    DUTA MASYARAKAT, 27 Desember 2009

    Sejak Edward Said melakukan serangan terhadap orientalisme, studi kritis tentang sejarah pembentukan Islam menjadi sebuah anatema (sesuatu yang kurang disukai). Sarjana Muslim yang hendak melakukan studi kritis terhadap Al-Quran, Hadis maupun sejarah Nabi Muhammad, akan ragu, karena mereka khawatir disamakan dengan para orientalis yang memang memiliki citra sangat buruk di dunia Islam.

    Dengan beban psikologis seperti itu, studi kritis terhadap sumber-sumber Islam klasik tak bisa lagi dilakukan secara bebas. Para sarjana Islam yang mencoba melakukan kritik terhadap tradisi Islam klasik merasa perlu terlebih dahulu melakukan disclaimer bahwa mereka bukanlah orientalis, dan apa yang mereka lakukan sesungguhnya demi kebaikan peradaban Islam, dan bukan karena membela kepentingan Barat atau orientalisme.
    Beban psikologis itu tentu amat mengganggu, menguras energi dan waktu. Alih-alih memfokuskan diri kepada pokok pembahasan, para sarjana Muslim sibuk berdebat tentang hal-hal yang sama sekali tidak pokok. Padahal, kalau mereka langsung masuk ke pangkal permasalahan tanpa terlalu mempersoalkan dari mana sebuah metode ilmu didapat, maka akan banyak hal yang bisa dihasilkan dengan segera.

    Begitu juga yang terjadi pada proses pemahaman terhadap Al-Quran sebagai wahyu Ilahi yang berisi nilai-nilai universal. Sebagaimana dimafhum bersama, nilai-nilai dasar Al-Quran mencakup berbagai aspek kehidupan manusia secara utuh dan komprehensif (Q.S. al-An’am: 37). Tema-tema pokoknya mencakup aspek ketuhanan, manusia sebagai individu dan anggota masyarakat, alam semesta, kenabian, wahyu, eskatologi, serta makhluk spiritual. Eksistensi, orisinalitas, dan kebenaran ajarannya dapat dibuktikan oleh sains modern (Q.S. al-Hujurat: 9), sedang tuntunan-tuntunannya adalah rahmat bagi semesta alam (Q.S. al-Furqan: 1).

    Namun demikian, Islam sendiri bukanlah suatu creatio ex nihilo, ciptaan yang meloncat begitu saja dari ruang kosong. Begitu juga Al-Quran yang tidak lepas dari historisitas-sosiologisnya. Al-Quran tidak boleh ditonjolkan sebagai kitab (teks) antik yang harus dimitoskan maupun dikultuskan, karena hal tersebut bisa menciptakan jarak antara Al-Quran dengan realitas sosial. Al-Quran di satu pihak diidealisasi sebagai sistem nilai sakral dan transendental, sementara di pihak lain realitas sosial yang harus dibimbingnya begitu pragmatis, rasional, dan materialistis.

    Nashr Hamid Abu Zayd dalam salah satu karyanya; Mafhum al-Nash; Dirasat fi Ulum al-Qur’an menegaskan bahwa peradaban Arab-Islam adalah peradaban teks. Artinya perlu adanya penakwilan dan reinterpretasi teks-teks keagamaan untuk menyemangati nilai-nilai kemanusiaan. Karena yang berkembang selama ini hanya penafsiran yang mengunggulkan aspek transendensi dan sakralitas, tapi mengenyampingkan aspek historisitas-sosiologis yang menyapa realitas kemanusian dengan santun dan elegan. Seperti yang dilakukan oleh kaum fundamentalis dengan pemahaman agama yang bersifat literalis-skripturalistik dan bibliolatrik menyebabkan supremasi teks yang berlebihan, dimensi manusia (ghayah al-insan) hilang dari modus keberagamaan, serta pengasingan manusia dari pengalaman spiritualnya sendiri.

    Fenomena ambiguitas seputar teks di atas membuat para pemikir muda merasa galau dan risau. Adalah Abd. Moqsith Ghazali, Luthfi Assyaukanie, dan Ulil Abshar Abdalla yang mencoba menarik napas kegalauan dan memuntahkannya dalam sebuah karya brilian, Studi Metodologi al-Quran. Mereka yang dilahirkan dari rahim kaum tradisional-liberal (baca: Nahdlatul Ulama/NU), mampu melakukan terobosan pemikiran yang melampaui khazanah tradisionalismenya. Buku ini menjadi bukti otoritas keilmuannya dalam membedah diskursus metodologi yang tertancap dalam kitab suci Al-Quran.

    Mereka melakukan penjelajahan khazanah keilmuan Al-Quran, sehingga menghasilkan sintesis pemikiran yang memukau: alternatif metodologi atau wajah baru pemahaman Al-Quran sebagai kitab yang tidak lepas dari kerangka historisitasnya. Penjelajahannya dalam samudera keilmuan metodologi studi Al-Quran bisa terlihat dari pembacaan kritisnya atas al-Itqan fi Ulum al-Quran karya Jalal al-Din al-Suyuthi dan al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an karya al-Qurthubi.

    Buku Metodologi studi Al-Qur’an yang di tulis oleh tiga intelektual muslim generasi baru yang paham khazahah klasik dan khazanah modern ini pasti akan mendorong diskusi sehat dan dewasa di kalangan umat Islam di Indonesia yang semakin cerdas. Penulis menyorot proses penulisan wahyu yang notabene sebagai domain iman yang berada di seberang ranah ilmu pengetahuan. Begitu juga bagaimana misalnya kompleksitas penulisan dan kodifikasi Al-Qur’an berlangsung hingga bagaimana cara memaknai dan menafsirkan Al-Quran dalam konteks sekarang.

    Buku setebal 176 halaman ini bermaksud memberikan pemaknaan terhadap Al-Quran dari sudut normatif sekaligus historisnya. Di samping memiliki nilai partikular yang historis-tarikhi, tak bisa disembunyikan bahwa dalam Al-Quran juga terkandung nilai universal yang meta-historis-all tarikhi. Posisi Al-Quran yang selalu berada di antara dua ketegangan (kesementaraan dan keabadian, partikularitas dan universalitas, ushuliyyat dan furu’iyyat) menyebabkan Al-Quran sebagai kitab suci selalu menarik untuk dikaji dan ditelaah.

    Tidak seperti umumnya buku-buku tentang Al-Quran yang suka menenggelamkan kritik historisnya, buku ini sengaja menyingkap tirai (kasyf al-mahjub) kesejarahan Al-Quran secara dingin dan objektif. Oleh karena itu, lebih bijaksana jika tidak di hadapi dengan anarkisme intelektual bagi mereka yang tidak setuju dengan pemikiran para penulis buku ini.

    *) Peresensi, mahasiswa semester bonus Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya.
    •