Prof Dr Achmad Mubarok MA
Akademisi pekerja keras yang sukses di politik
Baca Juga
Menag perkirakan Idul Fitri JumatMenag perkirakan Idul Fitri Jumat
SIDANG itsbat untuk menetapkan 1 Syawal 1431 Hijriyah atau Idul Fitri akan dilaksanakan Rabu (8/9) hari ini. Sidang digelar di Operation Room Kementerian Agama, Jalan Lapangan Banteng Barat 3-4, ...
SIDANG itsbat untuk menetapkan 1 Syawal 1431 Hijriyah atau Idul Fitri akan dilaksanakan Rabu (8/9) hari ini. Sidang digelar di Operation Room Kementerian Agama, Jalan Lapangan Banteng Barat 3-4, ...
Pejabat PSSI bunuh istri dihukum 5 tahun
Pejabat PSSI bunuh istri dihukum 5 tahun
Majelis Hakim menjatuhkan hukuman 5 tahun penjara bagi Yosep Revo, terdakwa pembunuh istri sendiri, Maria Reni Widowati. Hakim menilai Ketua Komisi Keuangan PSSI ini secara sah dan meyakinkan ...
Majelis Hakim menjatuhkan hukuman 5 tahun penjara bagi Yosep Revo, terdakwa pembunuh istri sendiri, Maria Reni Widowati. Hakim menilai Ketua Komisi Keuangan PSSI ini secara sah dan meyakinkan ...
Puncak mudik diwarnai hujan
Puncak mudik diwarnai hujan
GELOMBANG arus mudik, baik lewat darat, laut, maupun udara, semakin memuncak, Selasa (7/9) kemarin. Stasiun Pasar Senen, Jakarta, misalnya, kebanjiran ribuan pemudik asal Jawa Tengah dan Jawa Timur. ...
GELOMBANG arus mudik, baik lewat darat, laut, maupun udara, semakin memuncak, Selasa (7/9) kemarin. Stasiun Pasar Senen, Jakarta, misalnya, kebanjiran ribuan pemudik asal Jawa Tengah dan Jawa Timur. ...
Tim Teknis tolak ubah anggaran
Tim Teknis tolak ubah anggaran
TIM Teknis Pembangunan Gedung Baru DPR RI menolak mengubah desain dan rencana anggaran pembangunan gedung baru DPR senilai Rp 1,16 triliun. Tim teknis menganggap desain itu sudah representatif dan ...
TIM Teknis Pembangunan Gedung Baru DPR RI menolak mengubah desain dan rencana anggaran pembangunan gedung baru DPR senilai Rp 1,16 triliun. Tim teknis menganggap desain itu sudah representatif dan ...
Pasukan AS-umat Kristen terancam
Pasukan AS-umat Kristen terancam
SEBUAH sekte kecil di Florida, Amerika Serikat (AS), merencanakan aksi ngawur membakar Al Quran, dalam peringatan Tragedi WTC 11 September 2010. Aksi itu mereka beri nama “international burn the ...
SEBUAH sekte kecil di Florida, Amerika Serikat (AS), merencanakan aksi ngawur membakar Al Quran, dalam peringatan Tragedi WTC 11 September 2010. Aksi itu mereka beri nama “international burn the ...
Banyak dihujat Al-Quran tetap terpelihara
Banyak dihujat Al-Quran tetap terpelihara
Sejumlah kelompok anti-Islam di Amerika Serikat berencana membakar Al-Quran bertepatan dengan peringatan tragedi WTC Sabtu 11 September 2010 lusa. Acara semacam itu bukan yang pertama. Bahkan ...
Sejumlah kelompok anti-Islam di Amerika Serikat berencana membakar Al-Quran bertepatan dengan peringatan tragedi WTC Sabtu 11 September 2010 lusa. Acara semacam itu bukan yang pertama. Bahkan ...
DUTA MASYARAKAT, 08 Desember 2009
HUDA SABILY TEBET
Pada masa kecilnya, Ahmad Mubarok lebih dikenal dengan nama Barok. Memang begitu orang-orang memanggilnya. Mubarok lahir pada saat kondisi Negara tidak stabil. Ekonomi masyarakat juga sedang terpuruk.
======
Achmad Mubarok lahir di kampung Sidamulih, Rawalo, Purwokerto, Jawa Tengah, 15 Desember 1945. Ia adalah putra pasangan dari Kiai Mukri dan Nyai Juwairiyah. Ayahnya adalah pengasuh sebuah pondok pesantren.
Meskipun usianya kini sudah tidak muda lagi, Mubarok masih sangat ingat masa-masa kecilnya bersama keluarga. Karena berasal dari keluarga sederhana, kehidupan Mubarok kerap menghadapi banyak cobaan. Nama Achmad Mubarok diberikan orang tuanya sesuai dengan situasi zaman saat ia dilahirkan. “Mubarok” berarti “orang yang diberkati”.
Saat lahir, kata Mubarok, berdasarkan cerita orang tuanya, kondisi ekonomi keluarga sedang terpuruk. Karena itu, ketika berniat menyembelih kambing untuk aqiqah, orang tuanya tidak mengalami kesulitan keuangan.
Namun, ritual sederhana seperti tradisi santri, ketika bayi lahirkan, tetap digelar oleh kaluarganya dengan sederhana. “Jangankan kambing, ayam-pun tidak ada, maka dipotonglah labu sebagai gantinya,” kata Mubarok kepada Duta.
Ketika menginjak usia remaja, Mubarok mulai berkelana untuk menuntut ilmu. Sebagai pemuda yang haus ilmu, ia kerap berpindah-pindah dari pesantren satu ke pesantren lainnya. Karena tidak punya bekal yang cukup, ia kerap berjalan kaki ketika hendak berangkat ke pesantren tempatnya belajar.
“Walaupun tanpa bekal yang cukup, demi mendapatkan ilmu, saya rela harus berjalan,” ungkap Mubarok.
Dalam mengarungi hidup, Mubarok punya semangat pantang menyerah. Baginya, apapun yang sudah menjadi niat, pasti bisa akan tergapai dengan usaha dan doa.
Terkait dengan itu, ia mengaku terinspirasi oleh syair Imam Syafi’i yang sangat popular, khususnnya dikalangan pesantren. “Kata Imam Syafii, safir tajid ‘iwadhan ‘amman turafikuhu. Artinya, berkelanalah, engkau pasti akan menemukan pengganti dari apa yang engkau tinggalkan di kampungmu. Saya itu hidupnya mengalir, ngikuti kaedah aja, tidak ambisius,” ungkapnya.
Ketika ia masih membutuhkan bimbingan orang tua, ayah tercinya meninggal dunia. Ia pun menjadi anak yatim bersama lima saudaranya. Namun, kepergian sang ayah sama sekali tidak membuatnya patah semangat untuk tetap belajar dan berkembang.
Justru, sepeninggal ayahnya, Mubarok semakin bersemangat dalam menuntut ilmu. Ia ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, bagi bangsa dan negara. Dengan semangat dan ketekunannya, Mubarok kemudian tumbuh berkembang menjadi pemuda yang hebat, namun rendah hati. Karena kelebihannya itu, banyak orang yang ingin menawarkan diri menjadi ayah angkatnya.
Pada 1964, yaitu pada masa Nasakom (Nasionalis, Agama dan Komunis), dinamika perpolitikan di Indonesia tidak menentu. Mubarok pun merasa mempunyai tanggungjawab besar untuk ikut tampil di depan. Saat itu, ia menjabat Ketua PMII Cabang Purwokerto.
Dari PMII, Ia menjabat Ketua Gerakan Pemuda Ansor dan Ketua Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) tingkat kecamatan. Saat itu, Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra milik) Partai Komunis Indonesia (PKI) sedang gencar-gencarnya beraksi. “Jadi Lesbumi berdiri untuk menyaingi Lekra-nya PKI,” ungkapnya.
Ada pengalaman menarik yang menurut Mubarok susah hilang dari ingatannya. Pada 1965, PKI sedang jaya. Ketika itu, ada poros Nasakom (nasionalis, agama dan komunis). Pada usianya yang baru mengijak 19 tahun, Mubarok saat itu menjabat Sekretaris Partai NU tingkat kecamatan.
Menurutnya, ketika ada ulang tahun PKI, banyak orang datang. Masing-masing dari pihak Nasakom memberikan sambutan. Pihak komunis dan nasionalis diwakili tokoh-tokoh tua. Sementara dari NU, Mubarok yang masih sangat muda yang harus tampil.
Dengan percaya diri, kata Mubarok, ia berpidato mengkritik PKI pada acara ulang tahunnya. “Saat itu, usia saya 19 tahun. Dengan penuh percaya diri dan bekal ilmu, saya berani berpidato mengkritik PKI,” ceritanya.
Akademisi
Menginjak usia dewasa, Mubarok kemudian hijrah ke Jakarta. Pada 1975, Ia belajar dan mengabdi di pondok pesantren Assyafi’iyah Jakarta yang diasuh seorang ulama besar, KH Abdullah Syafi’i, di Jatiwaringin, Pondok Gede. Di pondok pesantren itu, Mubarok lebih banyak berkonsentrasi di Universitas Islam Assyafi’iyah (UIA).
Dari kampus UIA itulah, Mubarok mempunyai visi akademik yang bagus. Ia juga mulai mengenal banyak tokoh nasional. Karena merasa pengalaman dan keilmuannya masih kurang, Mubarok kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.
Sepulangnya dari Mesir, Mubarok kemudian melanjutkan kuliah S-2 dan S-3 di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (kini UIN). Setelah sukses mearaih gelar doktor, nama Mubarok semakin dikenal masyarakat.
Karena kelebihannya, ia kemudian terpilih sebagai Sekretaris Jenderal Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta. Jabatan itulah yang kemudian membawanya masuk anggota Majelis Permusyawaratan (MPR).
Terjun ke dunia politik membuatnya punya banyak kawan dan sahabat dari kalangan politisi. Hingga akhirnya ia menjadi salah satu pendiri Partai Demokrat dan menduduki jabatan Wakil Ketua Umum.
Luar biasanya, Mubarok tidak hanya sukses berkarir politik. Di dunia akademisi, ia diangkat menjadi Guru Besar pertama bidang Psikologi Islam oleh UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pada 2005. “Padahal awalnya saya tidak berani mengikuti proses tesnya, karena takut gagal,” katanya.
Setelah itu, selama 5 tahun berturut-turut menjadi Ketua Tim Juri Pemilihan Keluarga Sakinah Teladan Tingkat Nasional. “Saya tidak pernah berpimpi atau membayangkan jadi guru besar, ini tiba-tiba saja,” katanya.
Dalam berpolitik, Mubarok punya etika politik yang bagus. Menurutnya, “Duduk di belakang kemudian di suruh ke depan itu, lebih baik daripada sudah duduk di depan kemudian disuruh pindah ke belakang.”.
======
Achmad Mubarok lahir di kampung Sidamulih, Rawalo, Purwokerto, Jawa Tengah, 15 Desember 1945. Ia adalah putra pasangan dari Kiai Mukri dan Nyai Juwairiyah. Ayahnya adalah pengasuh sebuah pondok pesantren.
Meskipun usianya kini sudah tidak muda lagi, Mubarok masih sangat ingat masa-masa kecilnya bersama keluarga. Karena berasal dari keluarga sederhana, kehidupan Mubarok kerap menghadapi banyak cobaan. Nama Achmad Mubarok diberikan orang tuanya sesuai dengan situasi zaman saat ia dilahirkan. “Mubarok” berarti “orang yang diberkati”.
Saat lahir, kata Mubarok, berdasarkan cerita orang tuanya, kondisi ekonomi keluarga sedang terpuruk. Karena itu, ketika berniat menyembelih kambing untuk aqiqah, orang tuanya tidak mengalami kesulitan keuangan.
Namun, ritual sederhana seperti tradisi santri, ketika bayi lahirkan, tetap digelar oleh kaluarganya dengan sederhana. “Jangankan kambing, ayam-pun tidak ada, maka dipotonglah labu sebagai gantinya,” kata Mubarok kepada Duta.
Ketika menginjak usia remaja, Mubarok mulai berkelana untuk menuntut ilmu. Sebagai pemuda yang haus ilmu, ia kerap berpindah-pindah dari pesantren satu ke pesantren lainnya. Karena tidak punya bekal yang cukup, ia kerap berjalan kaki ketika hendak berangkat ke pesantren tempatnya belajar.
“Walaupun tanpa bekal yang cukup, demi mendapatkan ilmu, saya rela harus berjalan,” ungkap Mubarok.
Dalam mengarungi hidup, Mubarok punya semangat pantang menyerah. Baginya, apapun yang sudah menjadi niat, pasti bisa akan tergapai dengan usaha dan doa.
Terkait dengan itu, ia mengaku terinspirasi oleh syair Imam Syafi’i yang sangat popular, khususnnya dikalangan pesantren. “Kata Imam Syafii, safir tajid ‘iwadhan ‘amman turafikuhu. Artinya, berkelanalah, engkau pasti akan menemukan pengganti dari apa yang engkau tinggalkan di kampungmu. Saya itu hidupnya mengalir, ngikuti kaedah aja, tidak ambisius,” ungkapnya.
Ketika ia masih membutuhkan bimbingan orang tua, ayah tercinya meninggal dunia. Ia pun menjadi anak yatim bersama lima saudaranya. Namun, kepergian sang ayah sama sekali tidak membuatnya patah semangat untuk tetap belajar dan berkembang.
Justru, sepeninggal ayahnya, Mubarok semakin bersemangat dalam menuntut ilmu. Ia ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, bagi bangsa dan negara. Dengan semangat dan ketekunannya, Mubarok kemudian tumbuh berkembang menjadi pemuda yang hebat, namun rendah hati. Karena kelebihannya itu, banyak orang yang ingin menawarkan diri menjadi ayah angkatnya.
Pada 1964, yaitu pada masa Nasakom (Nasionalis, Agama dan Komunis), dinamika perpolitikan di Indonesia tidak menentu. Mubarok pun merasa mempunyai tanggungjawab besar untuk ikut tampil di depan. Saat itu, ia menjabat Ketua PMII Cabang Purwokerto.
Dari PMII, Ia menjabat Ketua Gerakan Pemuda Ansor dan Ketua Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) tingkat kecamatan. Saat itu, Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra milik) Partai Komunis Indonesia (PKI) sedang gencar-gencarnya beraksi. “Jadi Lesbumi berdiri untuk menyaingi Lekra-nya PKI,” ungkapnya.
Ada pengalaman menarik yang menurut Mubarok susah hilang dari ingatannya. Pada 1965, PKI sedang jaya. Ketika itu, ada poros Nasakom (nasionalis, agama dan komunis). Pada usianya yang baru mengijak 19 tahun, Mubarok saat itu menjabat Sekretaris Partai NU tingkat kecamatan.
Menurutnya, ketika ada ulang tahun PKI, banyak orang datang. Masing-masing dari pihak Nasakom memberikan sambutan. Pihak komunis dan nasionalis diwakili tokoh-tokoh tua. Sementara dari NU, Mubarok yang masih sangat muda yang harus tampil.
Dengan percaya diri, kata Mubarok, ia berpidato mengkritik PKI pada acara ulang tahunnya. “Saat itu, usia saya 19 tahun. Dengan penuh percaya diri dan bekal ilmu, saya berani berpidato mengkritik PKI,” ceritanya.
Akademisi
Menginjak usia dewasa, Mubarok kemudian hijrah ke Jakarta. Pada 1975, Ia belajar dan mengabdi di pondok pesantren Assyafi’iyah Jakarta yang diasuh seorang ulama besar, KH Abdullah Syafi’i, di Jatiwaringin, Pondok Gede. Di pondok pesantren itu, Mubarok lebih banyak berkonsentrasi di Universitas Islam Assyafi’iyah (UIA).
Dari kampus UIA itulah, Mubarok mempunyai visi akademik yang bagus. Ia juga mulai mengenal banyak tokoh nasional. Karena merasa pengalaman dan keilmuannya masih kurang, Mubarok kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.
Sepulangnya dari Mesir, Mubarok kemudian melanjutkan kuliah S-2 dan S-3 di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (kini UIN). Setelah sukses mearaih gelar doktor, nama Mubarok semakin dikenal masyarakat.
Karena kelebihannya, ia kemudian terpilih sebagai Sekretaris Jenderal Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta. Jabatan itulah yang kemudian membawanya masuk anggota Majelis Permusyawaratan (MPR).
Terjun ke dunia politik membuatnya punya banyak kawan dan sahabat dari kalangan politisi. Hingga akhirnya ia menjadi salah satu pendiri Partai Demokrat dan menduduki jabatan Wakil Ketua Umum.
Luar biasanya, Mubarok tidak hanya sukses berkarir politik. Di dunia akademisi, ia diangkat menjadi Guru Besar pertama bidang Psikologi Islam oleh UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pada 2005. “Padahal awalnya saya tidak berani mengikuti proses tesnya, karena takut gagal,” katanya.
Setelah itu, selama 5 tahun berturut-turut menjadi Ketua Tim Juri Pemilihan Keluarga Sakinah Teladan Tingkat Nasional. “Saya tidak pernah berpimpi atau membayangkan jadi guru besar, ini tiba-tiba saja,” katanya.
Dalam berpolitik, Mubarok punya etika politik yang bagus. Menurutnya, “Duduk di belakang kemudian di suruh ke depan itu, lebih baik daripada sudah duduk di depan kemudian disuruh pindah ke belakang.”.


