Indeks

BERITA UTAMA
Tanpa TKI Malaysia kelimpungan
Panda bisa seret Miranda - Nunun
Kapolsek-Kasatlantas tersangka
Marinir AS berpuasa latihan fisik jalan terus
Zakat, Pajak dan Kemiskinan

NASIONAL
Susno Duadji cokot Makbul
Pidato Presiden RI mengenai Dinamika RI-Malaysia (2-habis)
SBY dinilai seperti jubir Malaysia
Giliran Menhub diisukan selingkuh
Sikap SBY dinilai kurang tegas

ISLAMPEDIA

NAHDLIYIN

JATIM UTAMA

MALANG RAYA

TOPIK JATIM

EUFORIA PEMILU

TERAS JATIM

PENDIDIKAN

EDUPEDIA

SURABAYA
Kadin: Sulit dipendam lebih dalam
Tak digaji, karyawan KBS mengadu ke Disnaker
Warga ancam pindahkan sampah ke Pemkot
Risma-Bambang dilantik 15 September
Jabatan Bambang habis, Sukamto jadi Plt

SIDOARJO-GRESIK

BISNIS
Subsidi tak melebih batas
MLM syariah beroleh sertifikasi MUI
Flexi alami lonjakan 20 persen
PT KA tambah 28 kereta api
Ternyata SNI tabung elpiji tiga kilo bermasalah

OPINI
Berpuasa; bukan bersandiwara
OJK dan penghakiman (sepihak) terhadap BI
Mengisi kemerdekaan melalui pemberdayaan keluarga
Memoar kekerasan pada jurnalis
Memaknai pluralisme Islam

SUARA PEMBACA

SMS CAK!

OLAHRAGA
Iklan_Detail 1

Jatim
Rabu, 07 Januari 2009
Dukung Usut Skandal SLG
KEDIRI- Upaya Polda Jatim melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah pejabat Kabupaten Kediri, terkait dugaan korupsi mega proyek Simpang Lima Gumul (SLG) direspon positif kalangan DPRD setempat. .

Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Kediri, Abdul Hasyim, mengatakan jika memang ada indikasi penyimpangan DPRD berharap secepatnya dituntaskan.

"Jika ada indikasi penyimpangan, dan Polda Jatim menemukan bukti-bukti yang mendukung, ya seyogyanya dijalankan sesuai prosedur hukum," ungkap Abdul Hasyim, kemarin.

Sayangnya, ketika ditanya bidikan Polda Jatim mengenai proyek mercusuar itu dia enggan memberikan komentar. Dia berkilah bukan ranahnya.

Namun, dari beberapa sumber yang berhasil digali wartawan ini, hingga kini petugas tindak pidana lorupsi (tipikor) Polda Jatim terus melakukan serangkaian pemeriksaan, untuk mengumpulkan sejumlah bukti-bukti.

Dari berbagai sumber yang dihimpun, mengatakan pemeriksaan tentang indikasi korupsi tersebut mulai mengerucut pada proses lelang megaproyek SLG, dan Full finace searing, yakni proyek pada anggaran tahun 2002 dikerjakan pada tahun 2003.

Sekedar diketahui, dua indikasi tersebut terjadi pada proses pembebasan lahan yang memakan anggaran daerah sebesar Rp 30 miliar, sedangkan proses pembangunan awal mencapai kurang lebih Rp 17 miliar. Hal itu bertentangan dengan Kepres No 80 tahun 2003 tentang pengadaan barang dan jasa. (an)

[ kembali ]
Search
Nokia Forum