Fenomena penistaan agama, yang terjadi akhir-akhir ini mendapat reaksi keras dari ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, KH Abdusshomad Buchori. Untuk itu, diingatkan agar umat Islam dan tokoh Islam untuk menahan diri dari pelbagai ikhtiar yang menyudutkan Islam.
Bahkan, bentuk penistaan terhadap agama dengan berencana menyobek, dan menduduki Al-Quran, kitab suci umat Islam yang terjadi di Probolinggo tersebut dianggap sebagai fenomena luar biasa.
“Pengamatan secara umum, sepertinya ada skenario di balik fenomena itu. Karena fenomena penistaan terhadap agama tak hanya terjadi satu-dua kali. Tapi berkali-kali,” terang Ketua Umum MUI Jatim, KH Abdusshomad Buchori, saat dikonfirmasi Duta, Jumat (31/7).
Informasi terkumpul menyebutkan, gara-gara dituding menodai agama, Jazuli (35), warga Dusun Pengadangan, Desa Kebonagung, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, diamankan polisi, Jumat (31/7) dini hari. Sekitar pukul 24:15 dini hari, aparat dari jajaran Polres Probolinggo, dibantu warga desa sekitar, menjemput Jazuli di rumahnya. Bapak 5 anak ini, selanjutnya dibawa ke Mapolres untuk diperiksa.
Informasi yang dikumpulkan wartawan menyebutkan, sebelum dilaporkan menodai agama oleh beberapa tokoh FUIB (Forum Umat Islam Bersatu) Probolinggo, Jazuli, diketahui telah menyobek Al-Quran, mendudukinya, sekaligus (maaf, red) berniat hendak mengkentuti Al-Quran.Lebih dari itu, pria yang belakangan diketahui menganut ilmu Kejawen ini, juga disebut-sebut menantang Keesaan Allah SWT.
“Dia bilang Allah tidak ada. Mana Allah? Kalau ada saya culek matanya, dan saya sobek mulutnya,” ujar Sukandar, warga sekitar rumah Jazuli, seraya menirukan ucapan Jazuli.
Ditambahkan Sukandar, pernyataan Jazuli menantang Allah SWT sekaligus mengeluarkan kata-kata tak patut itu, juga diucapkan di muka umum.
Pada bagian lain, KH Abdusshomad Buchori menilai, kejadian tersebut muncul cukup berurutan setelah beberapa waktu lalu muncul beberapa aliran sesat. “Anehnya, kejadian seperti ini sulit dijebak. Sasarannya ada saja? Kalau tidak pesantren, ya umat Islamnya,” ungkapnya.
Hal ini, lanjut Kiai Shomad, yang pengasuh Pesantren Asshomadiyah Sepanjang Sidoarjo ini, karena Indonesia mayoritas warganya beragama Islam. Apalagi, kondisi pemerintahannya masih cukup memprihatinkan dalam persoalan agama, sehingga cukup mudah untuk dipecah.
Terkait tentang langkah yang dilakukan oleh aparat kepolisian? Kiai Shomad tetap berharap agar aparat lebih sigap dalam menangani persoalan seperti itu. Biar hal ini tidak menjadi persoalan yang pada akhirnya merugikan islam. “Kami harap aparat kepolisian lebih proaktif. n |