Indeks

BERITA UTAMA
Tanpa TKI Malaysia kelimpungan
Panda bisa seret Miranda - Nunun
Kapolsek-Kasatlantas tersangka
Marinir AS berpuasa latihan fisik jalan terus
Zakat, Pajak dan Kemiskinan

NASIONAL
Susno Duadji cokot Makbul
Pidato Presiden RI mengenai Dinamika RI-Malaysia (2-habis)
SBY dinilai seperti jubir Malaysia
Giliran Menhub diisukan selingkuh
Sikap SBY dinilai kurang tegas

ISLAMPEDIA

NAHDLIYIN

JATIM UTAMA

MALANG RAYA

TOPIK JATIM

EUFORIA PEMILU

TERAS JATIM

PENDIDIKAN

EDUPEDIA

SURABAYA
Kadin: Sulit dipendam lebih dalam
Tak digaji, karyawan KBS mengadu ke Disnaker
Warga ancam pindahkan sampah ke Pemkot
Risma-Bambang dilantik 15 September
Jabatan Bambang habis, Sukamto jadi Plt

SIDOARJO-GRESIK

BISNIS
Subsidi tak melebih batas
MLM syariah beroleh sertifikasi MUI
Flexi alami lonjakan 20 persen
PT KA tambah 28 kereta api
Ternyata SNI tabung elpiji tiga kilo bermasalah

OPINI
Berpuasa; bukan bersandiwara
OJK dan penghakiman (sepihak) terhadap BI
Mengisi kemerdekaan melalui pemberdayaan keluarga
Memoar kekerasan pada jurnalis
Memaknai pluralisme Islam

SUARA PEMBACA

SMS CAK!

OLAHRAGA
Iklan_Detail 1

Surabaya
Selasa, 03 Maret 2009
Dituntut ‘Bikin Hidup Lebih Hidup’
Di tengah tumpah ruahnya iklan politik caleg di jalanan dan media massa, tentu dibutuhkan strategi jitu agar pesan yang disampaikan bisa memasuki ruang kognitif publik dan membuat sosok caleg yang diusung lebih dikenal.

Itu pula yang menjadi pedoman Agus Supriyadi, salah satu orang yang berada di balik desain– desain nyleneh iklan politik caleg Golkar untuk DPR RI Dapil Jatim I (Surabaya-Sidoarjo) nomor urut 1, Priyo Budi Santoso.

Melalui bendera ‘Satu Dunia’ yang dibangunnya bersama dua koleganya, dia menelorkan konsep-konsep komunikasi politik yang berbeda dengan strategi caleg lain yang asal pasang.

“Sederhananya adalah berpikir beda dan membuat sosok yang kita tawarkan tidak generik. Logikanya, ketika ada 100 bendera berwarna hitam, lalu kita buat 1 bendera warna kuning maka akan cenderung diingat,” katanya.

“Sehingga, publik akan merespon dengan memasukkannya pada memorinya alias populer. Selanjutnya, tinggal bagaimana sang caleg bisa mengail simpati publik agar masuk tahapan elektabilitas (dipilih).”

Untuk itu, mantan wartawan ini juga menelorkan sejumlah desain dan strategi yang berbeda dibanding caleg lain. Tetapi dia enggan mengungkapkan karena hal itu masuk dapur strategi yang tidak boleh dibeberkannya ke publik.

“Ya nanti dilihat saja lah kalau sudah keluar. Kalau strategi detilnya kan rahasia perusahaan. He.. he..,” kata Agus yang juga menangani strategi marketing communication beberapa caleg DPR RI ini.(aya)

[ kembali ]
Search
Nokia Forum